Tren Diplomasi Abad 21

Selasa, 01 Juni 2010 22.50 By diplomasi senin 1245

TREN DIPLOMASI ABAD 21

Dini Ekawulandari
209000125

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Abad 21 adalah awal perubahan yang mendasar yang terkait pada teknologi dan informasi, perubahan-perubahan tersebut memberi pengaruh bagi aktivitas diplomatik. Seperti yang dikatakan oleh Harold Nicholson bahwa dengan adanya perkembangan diplomasi , maka peran dan fungsi diplomat telah berkurang peran dan fungsinya[i]. Tetapi menurut kenyataanya informasi dan komunikasi adalah sesuatu yang amat penting yang dibutuhkan dalam dunia diplomatik, kemajuan teknologi dan informasi tidak pantas dikatakan memberikan pengaruh buruk pada bagaimana diplomasi itu dijalankan. Kemajuan informasi dan teknologi tentu saja membawa dampak baik dalam dunia hubungan internasional seperti contohnya : meningkatnya peran media massa dan meningkatnya partisipasi masyarakat untuk lebih mengetahui tentang apa yang terjadi di belahan dunia luar serta berkembang nya model-model diplomasi seperti lahirnya diplomasi publik.

Tidak hanya begitu saja, NGOs ( Non State Government Organizations ) dan juga INGOs ( International non Government Organizations ) juga turut serta dalam perubahan-perubahan yang terjadi dalam politik global. Mereka berperan sebagai diplomasi jalur kedua , bahkan pengaruh-pengaruh aktor transnasional ini menjadi sangat penting ketika pengaruhnya mempengaruhi kebijakan - kebijakan pemerintah. Bersamaan dengan keterbukaanya memperoleh dan menyebarkan informasi Internasional negara-negara di dunia pun hampir tidak bisa menutup masalah-masalah yang terjadi didalam negerinya. Pada awal abad 21 inilah muncul lah kesadaran bahwa pentingnya keterlibatan publik dalam diplomasi, hal ini diasumsi bahwa pada saat terjadi perang, masyarakat internasional tidak bisa hanya mengandalkan peran aktor-aktor pemerintah saja dalam menyelesaikannya, tetapi masalah peperangan ini adalah tanggung jawab kita bersama sebagai masyarakat dunia.

Tren baru atau model diplomasi yang berkembang di abad 21 ini diharapkan membawa kontribusi bagi diplomasi yang dilakukan aktor-aktor pemerintah, dengan kemajuan informasi dan teknologi serta turut serta nya publik, diharapkan dapat menyeimbangi peran aktor-aktor jalur pertama ( first track diplomacy ) yang cenderung kaku dan kekakuannya itu dapat diimbangi oleh adanya diplomasi publik atau bisa kita sebut diplomasi publik ini sebagai diplomasi jalur kedua ( second track diplomacy ). Dimana munculnya aktor-aktor non pemerintah yang berupaya membangkitkan opini publik guna menyatukan ide-ide dengan aktor-aktor pemerintah atau diplomasi jalur pertama, yang dapat mempengaruhi pemerintah dalam mengambil kebijakan-kebijakan dalam negerinya.


1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian singkat diatas,maka makalah ini akan mencoba untuk menjawab pertanyaan sebagai berikut :

· Apa yang menjadi tren diplomasi abad 21 ?

· Faktor-faktor apa yang mendukung ada nya tren diplomasi abad 21 ini ?


1.3 Kerangka Pemikiran

1.3.1 Organisasi Internasional

Suatu struktur formal dan berkelanjutan yang dibentuk atas suatu kesepakatan antara anggota-anggota ( pemerintah ataupun non-pemerintah).

Dalam makalah ini membahas bagaimana fungsi organisasi internasional berdasarkan aktivitasnya yang berhubungan dunia diplomatik. Fungsi organisasi internasional menurut A.Le Roy Bennet adalah :

· To provide the means of cooperation among states in areas which cooperation provides advantages for all or a large number of nations ( menyediakan hal-hal yang dibutuhkan bagi kerjasama yang dilakukan antar negara dimana kerjasama itu menghasilkan keuntungan yang besar bagi seluruh bangsa ).

· To provide multiple channels of communication among governments so that areas of accommodation may be explored and easy acces will be available when problems arise( menyediakan banyak saluran-saluran komunikasi antar pemerintahan sehingga ide-ide dapat bersatu ketika masalh muncul ke permukaan).

1.3.2 Diplomasi Jalur Kedua ( Second Track Diplomacy )

Seiring dengan adanya revolusi informasi dan teknologi, maka lahirlah istilah “Diplomasi Publik” diplomasi publik ini adalah bagian dari second track diplomacy, dimana adanya aktor-aktor non state yang bukan berfungsi untuk menggantikan aktor-aktor diplomasi jalur pertama ( first track diplomacy ) melainkan untuk menyeimbangkan dan memberikan cara pandang yang berbeda terhadap suatu masalah. Diplomasi publik juga bertujuan menumbuhkan opini masyarakat yang positif tehadap isu-isu global yang berkembang, melalui interaksi dengan kelompok-kelompok kepentingan.maka jelas diplomasi publik disini mengutamakan komunikasi internasional. Secara sederhana cara kerja diplomasi publik melibatkan 9 jalur, yaitu : 1.Jalur pertama atau pemerintah, 2.Kelompok NGO/juru damai melalui resolusi konflik, 3.Kelompok bisnis atau juru damai melalui kegaiatn ekonomi atau perdagangan, 4.Warga negara atau juru damai perorangan biasa, 5.Aktivitas penelitian,pelatihan, pendidikan atau perdamaian melalui pembelajaran, 6.Aktivisme, atau juru damai melalui advokasi, 7.Kelompok agama, atau juru damai melalui penebalan iman, 8.Perdamaian melalui penyediaan dana, 9.Komunikasi dan media.

1.3.3 Perkembangan Informasi dan Teknologi

Seiring dengan perkembangan informasi dan teknologi maka peran media massa dalam tren diplomasi abad 21 ini sangat berpengaruh, isu-isu dalam negeri yang dimiliki oleh negara-negara kini dapat dengan mudah didapatkan oleh masyarakat dunia.Peranan media massa menyediakan informasi juga sangat berpengaruh dalam dunia diplomatik, contohnya saja pada saat penyanderaan diplomat- diplomat AS di Iran, media berperan sebagai negosiator dalam hal ini. Tentu saja teknologi dan informasi tidak dapat dipisahkan dalam dunia diplomatik, misalnya saja pada publikasi jalannya negosiasi.

BAB II


PEMBAHASAN


2.1 Munculnya Diplomasi Jalur Kedua ( Second Track Diplomacy )

2.1.1 Peran INGOs dan NGOs

Globalisasi memberikan kenyataan pada wajah baru diplomasi, yaitu adanya aktor-aktor transnasional ( perusahaan multinasional, organisasi-organisasi tingkat kawasan , INGOs dan NGOs ). Aktor-aktor transnasional ini menjadi aktor-aktor dalam diplomasi jalur kedua, dan mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah. Bahkan PBB juga memberikan nobel perdamaian sebanyak 8 kali pada organisasi –organisasi internasional non pemerintah ( NGOs). Komite nobel memberikan penghargaan pada Amnesty International pada tahun 1977, karena perhatiannya terhadap masalah-masalah HAM ( Hak Asasi Manusia ). Sekilas tentang Amnesty Internasional bahwa NGOs ini melakukan beberapa upaya berupa diplomasi dalam setiap kegiatannya, hal ini terbukti pada tahun 2001, delegasi Amnesty International mengunjungi banyak negara dan menemui para korban kekerasan HAM dan kemudian mengamati bagaimana peradilan serta memwawancarai aktivis-aktivis HAM di masing –masing negara. Cara anggota dan juga staf Amnesty Internasional ialah memobilisasi opini publik untuk melakukan pressure (tekanan) terhadap pemerintah dan institusi agar menghentikan pelanggaran HAM,Kegiatan tersebut dapat diwujudkan dengan melakukan demonstrasi publik dan juga melobi organisasi antar pemerintah. Hal ini jelas terbukti bahwa fungsi NGOs sendiri disini sudah jelas terhadap apa yang dipaparkan sebelum nya bahwa NGOs bertindak sebagai saluran komunikasi antar pemerintah yang berupaya untuk menyatukan ide-ide demi kepentingan bersama.Dan strategi diplomasi yang NGOs Amnesty Internasional ini lakukan sudah mengarah pada diplomasi publik dimana, NGOs tersebut melakukan demonstrasi publik, yang berfungsi untuk menumbuhkan opini publik agar saling pengertian terhadap persoalan –persoalan politik dalam negeri, cara yang demikian juga efektif digunakan karena dapat mempengaruhi pemerintah dalam memutuskan kebijakan-kebijakannya.

2.1.2 Lahirnya Diplomasi Publik

Diplomasi publik memberi warna baru pada dunia diplomatik, awal abad 21 inilah diplomasi publik muncul. Diplomasi publik bukan semata-mata digunakan untuk menggantikan diplomasi jalur pertama ( First Track Diplomacy ) yang diwakili oleh aktor-aktor pemerintah, tetapi diplomasi publik berfungsi sebagai pelengkap upaya-upaya yang dilakukan oleh aktor-aktor pemerintah, serta memberikan cara pandang baru dalam menyelesaikan suatu masalah. Perkembangan diplomasi publik yang amat pesat ditandai dengan kegagalan yang dilakukan pemerintah dalam diplomasi jalur pertama yang telah gagal menyelesaikan konflik antar negara-negara. Perlu ditekankan disini diplomasi publik bukan untuk menggantikan diplomasi jalur pertama, tetapi berusaha untuk memberikan masukan melalui informasi-informasi yang penting , membuka jalan negoisiasi antar pemerintah serta memberikan cara pandang baru terhadap upaya –upaya penyelesaian konflik-konflik yang terjadi. Didalam diplomasi publik ini perlu juga dioptimalkan komunikasi internasional, yaitu bagaimana cara aktor-aktor diplomasi publik ini : mengumpulkan, mengolah dan menyebarkan informasi demi kepentingan negara. Perkembangan informasi dan teknologi sangat berperan disini, terutama dengan meningkatnya peran media massa, media massa merupakan alat yang digunakan oleh diplomasi publik sebagai mobilisasi penyatuan opini-opini publik yang tentu saja sangat berperan dalam mempengaruhi kebijakan-kebijakan dalam negeri yang akan diputuskan oleh pemerintah itu sendiri.

Diplomasi publik memang tidak lepas dari keterlibatan publik dan hal itu memang yang menjadi ciri-ciri diplomasi tersebut, terutama karena disebabkan aktor-aktor didalam diplomasi jalur pertama cenderung kaku , dapat kita bandingkan bagaimana ciri-ciri yang dimiliki antara aktor-aktor diplomasi pertama dan aktor –aktor diplomasi kedua :

· Aktor diplomasi pertama memiliki ciri-ciri : aktor diplomasi jalur pertama hanya melakukan kegiatan berdasarkan kekuasaan dan cenderung kaku, aktor diplomasi jalur pertama melakukan tindakan jika hanya di beri intruksi oleh negara yang berdaulat.

· Sedangkan aktor jalur kedua memeliki ciri- cirri sebagai berikut : diplomasi yang dilakukan oleh aktor-aktor non pemerintah,memiliki sifat tidak resmi dari pemerintah, jadi diplomasi jalur kedua ini tidak perlu menunggu instruksi dari negara yang berdaulat atau pemerintah terkait untuk melakukan aktivitasnya.

Dalam kerjanya diplomasi jalur kedua ini melibatkan 9 jalur diantaranya :

· Jalur pertama : Pemerintah

Dalam jalur pertama , adanya peran pemerintah lah sebagai juru damai sebagai pembuat kebijakan dan mediator dalam upaya-upaya perdamaian.

· Jalur Kedua : NGO/kalangan professional

Merupakan aksi yang dilakukan oleh aktor-aktor non pemerintah dalam mengorganisir, mencegah,dan menyelesaikan masalah konflik-konflik internasional.

· Jalur Ketiga : Kalangan bisnis

Dalam hal ini pelaku bisnis sebagai juru damai melakukan nya melalui kegiatan ekonomi dan perdagangan, pada jalur ketiga ini sangat berpotensi sekali contohnya saja pada hal penyediaan lapangan kerja, dan kerjasama perdagangan yang akan menumbuhkan rasa saling pengertian antar bangsa-bangsa. Sebagai saluran materi yang berguna untuk membiayai aktivitas-aktivitas perdamaian.

· Jalur Keempat : Perorangan

Termasuk upaya masyarakat/masing-masing individu dalam upayanya menjaga perdamaian.

· Jalur Kelima : Pelatihan dan Pembelajaran

Ada nya ketrampilan-ketrampilan praktis seperti mediasi,negosiasi, resolusi konflik. Pembelajaran-pembelajaran seperti inidapat ditawarkan secara global melalui linta budaya.

· Jalur Keenam : Aktivisme

Jalur keenam ini melalui upaya-upaya advokasi , seperti pelucutan senjata, penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia, cara advokasi ini dilakukan oleh kelompok-kelompok kepentingan khusus.

· Jalur Ketujuh : Kelompok Agama

Cara yang digunakan pada kelompok ini ialah cara –cara yang bermoral dan tidak berlandaskan dengan kekerasan ( Non-Violent ).

· Jalur Kedelapan : Pendanaan

Dimana para organisasi –organisasi keuangan ini menyediakan dana atau menyumbangkan untuk keperluan diplomasi jalur-jalur lain.

· Jalur Kesembilan : Komunikasi dan Media

Didalam jalur kesembilan ini suara rakyat lah yang dibutuhkan, adanya apresiasi masyarakat dapat diekspresikan di media massa, untuk itulah kegunaan media massa.

Selain kesembilan jalur yang dipakai sebagai cara kerja diplomasi publik, diplomasi publik juga mempunyai tiga tujuan utama diantaranya :

· Dalam menghindari konflik, diplomasi publik mempunyai cara tersendiri yaitu dengan cara mengembangkan komunikasi, dan meningkatkan rasa saling pengertian satu sama lain.

· Bagaimana cara nya diplomasi tersebut mengurangi ketegangan yang ada saat berhadapan dengan musuh atau pihak yang sedang bersitegang diplomasi publik menggunakan cara seperti memberikan pengalaman –pengalaman khusus ketika berinteraksi, cara ini digunakan untuk menghindari kemarahan atau ketakutan.

· Diplomasi publik adalah jembatan antara pemerintah dan masyarakat untuk itu para aktor-aktor dalam diplomasi ini harus bisa menjelaskan pokok permasalahan dari sudut pandang masing-masing.

Berikut ini sebuah contoh kasus bagaimana sebuah alat musik tradisonal Indonesia, menjadi alat diplomasi, dan para budayawan, masyarakat,bahkan media massa juga turut serta dalam hal ini, sedikit cerita bahwa sejak terjadinya peristiwa Bom Bali , para wisatawan asing mendapat “travel warning” dari negara-negara asalnya, mereka untuk sementara tidak diperbolehkan untuk melakukan wisata ke Indonesia, dikarenakan adanya mosi tidak percaya terhadap negara Indonesia. Dan warga negara asing merupakan salah satu sasaran utama teroris , terutama warga negara Amerika dan juga Australia. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, tentu saja devisa negara yang berasal dari pariwisata akan terus berkurang, untuk itu pemerintah berusaha memperbaiki keadaan.

Indonesia yang terkenal dengan keanekaragaman budayanya, mencoba menarik simpati publik dengan cara diplomasi publik. Yaitu dengan cara memperkenalkan budaya alat musik angklung2. 13 seniman luar negeri diantaranya berasal dari negara : Eropa, Amerika, Australia dan sebagaiannya, diundang untuk datang ke Indonesia, mereka di bebaskan untuk belajar budaya Indonesia, sebagian dari mereka tertarik untuk belajar bermain alat musik angklung, dan ketertarikan mereka diikuti dengan belajar di Saung Udjo, tempat pelestarian angklung yang terletak di Jawa Barat. Hal ini membuktikan bahwa adanya peran publik seperti budayawan yang berusaha untuk memperbaiki image Indonesia dimata dunia, bahwa sebenarnya Indonesia adalah negara yang aman untuk dikunjungi. Hasil dari belajarnya 13 seniman asal luar negeri ini akan dipertunjukkan di UNESCO,Paris. Tentu saja tidak perlu dengan cara kekerasan untuk memperbaiki image Indonesia, tetapi dengan adanya diplomasi publik ini aktor-aktor negara dapat memberikan cara pandang yang baru terhadap diploamsi jalur pertama, dalam menyelesaikan suatu permasalahan dalam negeri.




2.1.3. Faktor-faktor Pendukung Lahirnya Tren Diplomasi Abad 21

Menurut perkembangan tren diplomasi abad 21 ada 2 faktor yang besar pengaruhnya terhadap lahirnya tren diplomasi abad 21 ini, diantaranya :

· Diplomasi jalur pertama yang gagal,perlu diketahui ketika aktor-aktor pemerintah gagal dalam menyelesaikan konflik-konflik persoalan yang ada.Maka sebenarnya aktor-aktor pemerintah ini membutuhkan cara pandang baru terhadap penyelesaian konflik-konflik tersebut, maka dengan itu aktor-aktor non pemerintah lahir,tren abad 21 ini muncullah “diplomasi publik” mereka ada bukan untuk menggantikan aktor-aktor pemerintah tapi berusaha untuk menyeimbangi aktor-aktor pemerintah dan memberikan cara pandang baru terhadap penyelesaian konflik-konflik atau persoalan-persoalan yang ada.

· Perkembangan Informasi dan Teknologi

Seiring dengan berkembangnya informasi dan teknologi, dan juga lahirnya diplomasi publik sebagai tren diplomasi abad ini justru tidak dapat dipisahkan, media massa kini berperan penting sebagai mobilisasi penyatuan ide-ide masyarakat atau publik terhadap kebijakan –kebijakan yang pemerintah keluarkan, mereka berhak mengapresiasikan kan suara nya di media massa. Dan aktor-aktor non pemerintah terlihat sekali perannya, mereka berusaha menjadi penengah antara pemerintah dan masyarakat, sebagai aktor-aktor non pemerintah dalam diplomasi publik, mereka berkewajiban untuk menjembatani informasi tersebut yang terjadi dilingkungan domestik maupun dilingkungan internasional, dan bisa juga mejelaskan apa yang terjadi dilingkungan internasional mereka bawa ke lingkungan domestiknya. Contohnya saja isu climate change,isu global tersebut dapat diinterpersentasikan di negeri sendiri, isu tersebut harus disampaikan kepada publik dalam bentuk apapun melalui film- film , atau bahkan kampanye secara damai gunanya ialah menarik opini publik untuk tetap peduli terhadap lingkungan nya , ini salah satu manfaat dengan adanya perkembangan informasi dan teknologi.

BAB III

KESIMPULAN

Diplomasi publik adalah tren diplomasi abad 21, diplomasi publik merupakan bagian dari diplomasi jalur kedua ( second track diplomacy) diplomasi publik lahir dikarenakan gagalnya aktor-aktor pemerintah dalam menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi. Maka aktor- aktor non pemerintah mulai menunjukan perannya. Aktor-aktor non pemerintah disini bukan berfungsi untuk menggantikan aktor-aktor diplomasi pada jalur pertama( first track diplomacy), tetapi aktor –aktor non pemerintah berusaha untuk menyeimbangi peran diplomasi jalur pertama yang diwakili oleh aktor-aktor pemerintah. Pada diplomasi publik ini, aktor-aktor non pemerintah berusaha untuk memberikan informasi-informasi yang penting dan juga sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat. Seiring dengan berkembangnya informasi dan teknologi, peran media massa sangat berpengaruh, tidak bisa kita pungkiri media massa sangat erat kaitannya dengan diplomasi publik, dimana media massa sebagai mobilisasi opini-opini publik dapat tertampung, jika opini-opini publik itu dapat tertampung maka opini tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap kebijakan yang dibuat pemerintah.Semoga diplomasi publik bukan hanya sekedar tren abad 21 saat ini, tetapi diplomasi publik juga dapat bekerja dengan baik dan menghasilkan win-win solution bagi konflik-konflik atau pun masalah yang belum bisa terselesaikan oleh diplomasi jalur pertama.

DAFTAR PUSTAKA

Website :

http://huripedia.id-hrdocs.org/index.php?title-non-governmental_organization_(NGO)diakses pada

Artikel :

http://www.gatra.com/2007-07-22/artikel.php?=106244 diakses pada 31 Mei 2010 pukul 21:00

http://tabloiddiplomasi.com/index.php/previous-isuue/55-desember-2007/535-diplomasi-publik-menjembatani-persepsi-domestik-dan-internasional.html diakses pada 1 juni 2010 pukul 22:57 WIB

Buku :

Djelanti,Sukawarsini.Diplomasi antara teori dan praktik.Yogyakarta:GrahaIlmu,2008

Perwita,AnakAgung Banyu dan Yayan Mochamad Yani Pengantar Ilmu Hubungan Internasional.Bandung:Remaja Rosdakarya,2005

Suherman,Ade Maman.Organisasi Internasional& Integrasi Ekonomi Regional dan Perspektif Hukum & Globalisasi.Jakarta:Gholia Indonesia,2003



[i] Sukawarsini Djelantik,Diplomasi antara Teori dan Praktik(edisi pertama; Yogyakarta:Graha Ilmu 2008

Hal 15

2.http://tabloiddiplomasi.com/index.php/previous-isuue/55-desember-2007/535-diplomasi-publik-menjembatani-persepsi-domestik-dan-international.html diakses pada 1 juni pukul 22:57

Keberhasilan Diplomasi dalam Hubungan Kerjasama Bilateral Indonesia dan Jepang

09.04 By diplomasi senin 1245

ANINDITA WIRANTI - 209000102

I. Pendahuluan

Indonesia memiliki catatan tertentu pada setiap kerjasamanya dengan melibatkan negara lain baik bilateral, multilateral hingga universal. Tidak terkecuali dengan hubungan Indonesia dan Jepang yang sudah cukup lama menjalin kerjasama di berbagai bidang.
Walaupun sempat menjadi negara jajahan Jepang, seiring berjalannya waktu Indonesia dan Jepang menemukan titik damai dan menjalin kerjasama bilateral demi menjaga hubungan diplomatik yang baik. Indonesia membutuhkan Jepang dan sebaliknya Jepang pun membutuhkan Indonesia. Kerjasama Indonesia dan Jepang hingga saat ini telah berjalan kurang lebih selama 52 tahun sejak tahun 1958. Berbagai sektor kerjasama telah dijalankan oleh Indonesia dan Jepang baik di bidang ekonomi, pendidikan, perdagangan bahkan kultural budaya.
Jepang hingga saat ini merupakan negara di kawasan Asia yang berkembang dengan cepat menjadi salah satu macan Asia seperti China. Fakta bahwa Jepang memiliki manajemen keuangan yang baik sangat memberikan peluang untung membantu Indonesia dalam pembangunannya.
Diplomasi Indonesia terhadap Jepang adalah salah satu contoh keberhasilan diplomasi yang dilakukan oleh Indonesia. Kerjasama yang telah dibina oleh Jepang sejak dahulu merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk mendapatkan national interestnya. Dengan adanya kerjasama dengan negara maju seperti Jepang tentu dapat menguntungkan bagi negara berkembang seperti Indonesia. Demikian pula ber;aku sebaliknya, Jepang juga membutuhkan kerjasama dengan Indonesia untuk mencapai kepentingan negaranya.
Diplomasi menjadi penting bagi seluruh Negara dewasa ini. Setiap negara bernegosiasi dengan negara-negara lainnya untuk sama-sama mencapai kepentingan nasionalnya masing-masing. Ini pula yang dilakukan Indonesia dengan Jepang berdiplomasi untuk saling bekerja sama di berbagai sektor untuk memenuhi kepentingan masing-masing dan menjaga hubungan baik antar negara.

II. Kerangka Pemikiran
Dasar pemikiran yang digunakan dalam masalah kerjasama yang melibatkan Indonesia dengan Jepang adalah penerapan first track diplomacy yang merupakan proses resmi negosiasi yang dilakukan pemerintah yakni pemerintah Jepang dan Indonesia. Proses ini sudah terjadi cukup lama dengan itikad baik kedua belah pihak negara untuk saling bekerja sama membina hubungan baik antar negara serta memenuhi kepentingan nasionalnya. Hubungan pemerintah dengan pemerintah akan lebih memudahkan proses kerjasama, meskipun nantinya pemerintah kenegaraan bukan satu-satunya media untuk dapat menjalankan kerjasama melalui negosiasi.
Berikutnya adalah konsep mengenai interdepedensi yang kemudian akan dikaitkan ke dalam topik yang diangkat. Konsep ini menjelaskan bahwa negara bukan satu-satunya aktor independen secara keseluruhan, malah negara saling bergantung satu sama lain. Negara mana saja tidak dapat berdiri sendiri tanpa bantuan negara lain. Setiap negara akan membutuhkan bantuan dari negara lain baik dari sumberdaya atau barang produksi yang dihasilkan oleh negara lain.
Ketergantungan antara negara satu dengan lainnya tidak hanya terfokus dalam satu sektor saja, banyak sektor yang memanfaatkan konsep ini untuk kerjasama seperti di bidang ekonomi, politik, maupun sosial. Maka hal ini pula lah yang menyebabkan adanya kerjasama Indonesia dan Jepang yakni adanya hubungan saling ketergantungan di mana Indonesia membutuhkan Jepang dan Jepang membutuhkan Indonesia.

2.1. Rumusan Masalah
1. Kerjasama apa sajakah yang telah berhasil dilakukan Indonesia dengan Jepang sebagai bentuk keberhasilan diplomasi?
2. Dampak apa sajakah yang ditimbulkan oleh adanya kerjasama ini?

III. Pembahasan

3.1 Bentuk-bentuk Kerjasama yang Telah Dilakukan oleh Indonesia dan Jepang
3.1.1 Bidang Ekonomi
Banyak sektor kerjasama yang telah dilakukan oleh Jepang dan Indonesia. Yang paling utama adalah bentuk bantuan ekonomi yang diberikan Jepang kepada Indonesia. Jepang banyak memberikan bantuan kepada negara-negara berkembang salah satunya Indonesia. Jepang membentuk suatu program yang bernama Official Development Assistance (ODA), yang bergerak di bidang bantuan pembangunan ekonomi negara berkembang hingga bantuan untuk bantuan bencana alam.
Bantuan yang diberikan oleh Jepang melalui ODA tercatat dimulai pada tahun 1954, dalam bentuk adanya pelatihan yang diberikan ke dalam 3 bidang yakni dalam masalah kesehatan, pertanian dan bahkan transportasi. Yang sejak saat itu Indonesia mendapat perhatian khusus dari pemerintaha Jepang. ODA memiliki beberapa kategori bantuan yakni, pinjaman yen, bantuan dana hibah dan kerjasama teknik. ODA juga berpartisipasi dalam serangkaian bantuan bencana alam yang di alami Indonesia seperti perbaikan struktur dan infrastruktur pasca tsunami di Aceh tahun 2004 lalu.
Perdagangan, merupakan salah satu unit ekonomi yang tidak dapat dilepaskan dari kerjasama Indonesia dengan Jepang. Fokus dari perdagangan itu sendiri adalah masalah ekspor impor antara Indonesia dan Jepang. Jepang banyak mengimpor dari Indonesia, kebanyakan komoditi yang diimpor oleh Jepang dari Indonesia adalah komoditi atau barang-barang hasil sumber daya alam seperti tanaman holtikultura, hasil-hasil tambang, minyak, gas dan lainnya. Sedangkan ekspor Jepang atau impor Indonesia dari Jepang kebanyakan adalah komoditi untuk keperluan atau bidang industri seperti impor otomotif, barang elektronik, mesin-mesin dan banyak lagi.
Investasi, yang juga termasuk dalam kerjasama perekonomian Indonesia dengan Jepang. Hubungan investasi Indonesia dengan Jepang sempat naik turun karena krisis yang dialami Indonesia. Tetapi mulai berangsur baik hingga sekarang. Jepang merupakan salah satu Negara yang mempunyai investasi terbesar di Indonesia dengan mendirikan dan mengoprasikan perusahaan-perusahaan milik Jepang di Indonesia., yang mana banyak tenaga kerja Indonesia dipekerjakan. Oleh karena itu Jepang adalah termasuk salah satu negara yang mensuplai lapangan kerja di Indonesia.

3.1.2 Bidang Sosial
Kerjasama tidak terhenti dalam bidang ekonomi saja. Kerjasama lain yang telah berhasil dilakukan sebagai keberhasilan diplomasi adalah kerjasama dalam bidang sosial. Hal yang paling menonjol dalam kerjasama di bidang ini adalah pendidikan dan budaya. Semakin berkembangnya tingkat pendidikan yang tinggi dan juga tingkat kebutuhannya maka pendidikan merupakan salah satu cara kerjasama yang baik untuk terus mempertahankan hubungan yang baik pula dari Indonesia dan Jepang.
Jepang hingga saat ini merupakan salah satu tujuan para pelajar Indonesia menempuh jenjang pendidikan. Namun tidak sedikit pula pelajar Jepang yang tertarik untuk belajar ke Indonesia. Upaya-upaya kerjasama dalam pendidikan ini salah satunya dipicu oleh tingkat penerimaan dan pengaplikasian pendidikan yang masih rendah di Indonesia. Adanya kepentingan untuk mulai menjalin kerjasama dengan negara-negara yang maju dalam ilmu pengetahuan salah satunya Jepang. Kontribusi Jepang ke Indonesia telah cukup banyak dilakukan, bahkan untuk perbaikan dan pembangunan struktur maupun infrastruktur yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Jepang dibantu dengan organisasi internasional lain berkontribusi untuk membangung beberapa sekolah di wilayah Indonesia. Hal ini dikarenakan Jepang ingin membantu kualitas pendidikan yang ada di Indonesia nantinya agar tidak masuk ke dalam level yang minimum.
Program pertukaran pelajar antara Indonesia dan Jepang juga cukup diminati. Banyak sekolah-sekolah yang mengirimkan wakilnya untuk mengikuti studi singkat di Jepang dan mempelajari beraneka ragam kebudayaan dan hal lain yang berada di Jepang. Sebaliknya, tidak sedikit pula pelajar Jepang yang mengikuti studi di Indonesia yang sebagian besar tertarik terhadap beragam kebudayaan di Indonesia. Tenaga pengajar dari Jepang pun sering kita jumpai di berbagai sekolah hingga perguruan tinggi di Indonesia. Inilah salah satu kebanggan Indonesia yang memiliki keindahan budaya yang disegani dan diseanangi oleh masyarakat asing mancanegara khususnya Jepang.
Berbicara mengenai kebudayaan yang beragam maka salah satu hal lain yang ikut menjadi sorotan kerjasama antara Indonesia dan Jepang adalah dari sektor budaya. Kesepakatan diplomasi tidak selalu harus dilakukan secara formal melalui forum pertemuan. Kebudayaan menjadi salah satu jembatan untuk mencapai keberhasilan diplomasi. Melalui kebudayaan, Indonesia menjadikannya suatu cara untuk memperkenalkan budaya Indonesia dan juga untuk menjaga citra baik Indonesia dalam hubungan antar Negara dan juga untuk memperoleh kepentingan nasional atau national interest dari Indonesia.
Jepang sangat menyukai budaya Indonesia, masyarakat Jepang banyak bertandang ke Indonesia dari untuk hanya sekedar menikmati keanekaragaman budaya Indonesia sampai untuk tinggal menetap di Indonesia. Indonesia telah sering memperkenalkan berbagai kesenian dan ciri khasnya ke dunia luar tidak terkecuali Jepang. Berbagai festival tari yang di adakan di Jepang turut serta membawa penari Indonesia untuk unjuk kebolehan di negeri sakura. Hal-hal seperti ini merupakan salah satu modal utama Indonesia untuk berdiplomasi, untuk mendapatkan dan mencapai kepentingan nasional tanpa menggunakan hard-power.
Indonesia dengan berbagai kebudayaan tradisionalnya yang memikat, namun muncul pertanyaan bagaimana dengan kebudayaan Jepang sendiri. Dewasa ini masyarakat Indonesia banyak yang telah mempelajari berbagai macam pula kebudayaan Jepang. Seperti masuknya bahasa Jepang sebagai salah satu program belajar di beberapa sekolah di wilayah Indonesia, seni melipat kertas atau origami yang telah dikenal sejak kecil dan bahkan menjamurnya seni berpakaian harajuku yang sangat terkenal di Jepang. Dan tanpa sadar bahwa tidak sedikit masyarakat Indonesia yang mengadopsi berbagai kesenian negeri sakura tersebut. Pertukaran budaya yang terjadi antara Indonesia dan Jepang dapat membuktikan bahwa kerjasama antar negara dapat dicapai dengan keberhasilan diplomasi budaya.

3.1.3 Bidang Politik
Setelah melihat keberhasilan di bidang sosial dan juga ekonomi, hal yang tidak kalah penting adalah dari segi politik. Apa saja kira-kira retribusi politik yang diberikan oleh Jepang kepada Indonesia dan begitu pula sebaliknya. Jepang memiliki kekuatan politik saat ini di dunia pada umumnya dan di Asia khususnya. Sebenarnya perisai ekonomi yang dimiliki Jepang merupakan salah satu senjata politiknya, termasuk kepada Indonesia. Masalah ini dipicu oleh ketergantungan Indonesia dan bantuan Jepang yang sangat mendominasi terutama dalam bantuan ekonomi. Indonesia berada dalam posisi cukup sulit. Indonesia memerlukan bantuan dari Jepang untuk perbaikan stabilitas ekonominya namun di lain sisi Jepang menjadikan Indonesia sebagai alat untuk meraup keuntungan semaksimal mungkin demi kesejahteraan negaranya.
Politik erat kaitannya dengan ekonomi. Perekonomian yang stabil di suatu negara akan berpengaruh pula pada kestabilan politiknya. Politik ekonomi yang dilakukan Jepang terhadap Indonesia berlandaskan dari budaya politik survival Jepang.
Meski terlihat ironis Indonesia tidak selalu negatif dalam penerapan politiknya. Memang dalam kerjasamanya dengan Jepang, Indonesia terlihat tidak maksimal dalam penerapan politiknya, tetapi tidak seratus persen hal itu benar karena Jepang juga memuji politik luar negeri yang dilakukan Indonesia terhadap Jepang, karena sesungguhnya akan menguntungkan Indonesia juga terutama dalam sektor perdagangan.
Beberapa tahun yang lalu Indonesia dan Jepang sering mengadakan pertemuan sesama anggota parlemen dari masing-masing negara. Kedua belah pihak sama-sama melakukan studi banding untuk mempelajari situasi dan menganalisa bagaimana sebuah sistem pemerintahan berjalan di tiap-tiap negara. Perlombaan atau persaingan di dunia politik tidak pernah akan habis. Tiap-tiap negara pasti mempunyai strategi politik masing-masing untuk memenuhi kepentingan di dalam negara itu sendiri, termasuk Indonesia dan Jepang yang tetap menjaga hubungan baik berpolitik meski ada beberapa hal yang tidak sepaham atau berjalan dengan baik.

3.2 Dampak Kerjasama Diplomatik Indonesia Jepang

3.2.1 Dampak Positif
Setiap kerjasama yang dilakukan, baik kerjasama yang terhitung kecil maupun kerjasama yang besar sekalipun pasti memiliki dampak yang dapat dirasakan. Sama halnya dengan kerjasama Indonesia dengan Jepang yang tentu saja menimbulkan beberapa dampak. Umumnya kerjasama dimaksudkan adalah untuk memperoleh keuntungan di kedua belah pihak atau lebih. Dengan dijalinnya kerjasama maka diharapkan pencapaian keuntungan pun akan semakin mudah di dapat. Indonesia bekerjasama dengan Jepang maka akan ada beberapa dampak yang ditimbulkan.
Keuntungan yang dapat diperoleh dari Indonesia dari kerjasamanya dengan Jepang adalah pemanfaatan teknologi negara ini yang sudah maju. Indonesia dibantu dengan penerapan teknologi untuk mempercepat laju pembangunan. Jepang membantu Indonesia bangkit dari krisis dan perlahan menuju perbaikan stabilitas ekonomi Indonesia.
Berkurangnya penggangguran merupakan salah satu keuntungan pula, karena dengan banyaknya perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia akan semakin banyaknya lapangan pekerjaan yang diberikan. Seperti perusahaan otomotif Jepang yang membutuhkan tenaga engineering orang Indonesia.
Meluasnya akses internasional bagi Indonesia, dengan adanya kerjasama ini maka akses internasional bagi Indonesia di segala bidang akan semakin mudah, baik dalam segi ekonomi-perdagangan, perluasan budaya, ilmu pengetahuan dan berbagai sektor lain. Bantuan yang diberikan Jepang oleh Indonesia diberbagai sektor tersebut diharapkan mampu dan harus dapat membantu pembangunan Indonesia. Perkembangan Indonesia pun diharapkan dapat mencapai ke titik yang lebih tinggi.
Sedangkan keuntungan yang dapat dirasakan oleh Jepang sendiri adalah dapat memanfaatkan sebaik mungkin sumber daya yang berasal dari Indonesia. Baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.
Jepang memberikan kesempatan untuk Indonesia agar dapat lebih berkembang dengan berbagai bantuan yang dikontribusikan untuk Indonesia. Dan sebaliknya Indonesia harus mempertahankan posisi diplomatiknya dengan Jepang agar proses negosiasi dalam setiap kerjasama dapat terus terlaksana dan menguntungkan bagi keduanya.

3.2.2 Dampak Negatif

Disamping menguntungkan, kerjasama antar kedua negara dapat menimbulkan sisi negatif dalam pelaksanaannya. Indonesia sebagai negara penerima bantuan dari Jepang dianggap sebagai mainan atau boneka yang sedang diperalat Jepang. Hal ini dikarenakan bahwa Indonesia dianggap mengekspolitasi kekayaan negaranya untuk diberikan negara lain. Jepang melakukan kerjasama dengan Indonesia karena tergiur oleh kekayaan sumber dayanya dan akan membantu Jepang untuk memperoleh keuntungan maksimum bagi negaranya.
Keberhasilan Jepang menjalin kerjasama di Indonesia dan mempunyai posisi kuat akan semakin memperkuat kedudukannya di Asia sebagai negara berpengaruh menyaingi China yang merupakan kompetitor dari Jepang. Dari segi perdagangan pun muncul beberapa keluhan mengenai hubungan perdagangan Indonesia dengan Jepang. Adanya peraturan mengenai pihak asing yang dapat melakukan usaha komersil apapun tanpa harus memiliki partner dari Indonesia. Peraturan ini mempersulit dan sedikit mematikan para pengusaha lokal, di mana seharusnya pengusaha lokal maupun asing dapat bekerjasama untuk saling dapat memenuhi keubutuhan masing-masing. Di sisi lain peraturan di berlakukan untuk menaikkan jumlah investasi di Indonesia tetapi tetap saja merugikan pihak pengusaha Indonesia.
Sisi negatif yang muncul dari kerjasama Indonesia dengan Jepang mengerucut kepada masalah ekonomi. Jepang sebagai negara besar dianggap memainkan Indonesia yang masih merupakan negara berkembang dengan memanfaatkan kekayaan alamnya untung kepentingan meraup keuntungan bagi Jepang. Setiap kerjasama memiliki hasil yang negatif maupun positif, adanya kerugian-kerugian tertertentu seperti ini tidak lantas membuat Indonesia menghentikan diplomasinya ke Jepang untuk terus bekerjasama. Dengan adanya sisi negatif atau kerugian yang muncul diharapkan Indonesia dapat hati-hati dalam menjaga hubungan diplomasi antar negara.

IV. Kesimpulan
Indonesia dan Jepang memulai hubungan keduanya dengan cara penjajahan. Namun setelah meredamnya perang, Indonesia dan Jepang saling berhubungan baik untuk memenuhi kepentingan negaranya masing-masing. Dimulai dari bantuan penyelesaian krisis yang dialami Indonesia, hubungan diplomatik dengan Jepang terus berlanjut hingga sekarang.
Jepang telah banyak memberikan bantuan kepada Indonesia, baik dalam hal pendanaan, pembangunan struktur dan infrastruktur, dan dinamika politik. Telah banyak proyek yang dihasilkan dalam kerjasama Indonesia – Jepang, terutama dalam bidang ekonomi kemudian sosial dan juga politik. Jerih payah Indonesia dalam berdiplomasi demi membangun kerjasama yang baik dengan Jepang diharapkan akan terus memperoleh keuntungan bagi Indonesia dan juga keuntungan bagi Jepang.
Banyaknya kerjasama, banyaknya bantuan pasti sedikit menyisakan nilai plus dan minus. Berbagai bentuk hasil kerjasama Indonesia dengan Jepang tidak selalu berjalan dengan baik. Indonesia dapat secara perlahan memperbaiki pembangunan dengan bantuan Jepang dan tentu mendapatkan pula berbagai keuntungan yang dapat dirasakan. Namun demikian ada pula sisi negatif dari kerjasama ini yang menunjukan bahwa Indonesia hanya dijadikan alat oleh Jepang dalam memperoleh kemakmuran negaranya.
Pentingnya diplomasi dari setiap negara ke negara lain diharapkan dapat memperoleh hasil dan tujuan yang akan dicapai. Demikian dengan kerjasama yang dilakukan oleh Indonesia dengan Jepang sebagai bentuk pengapresiasian diplomasi, yang diharapkan dapat mencapai kepentingan nasional Indonesia dan menjaga hubungan baik antar negara. Dan Jepang pun menjalankan praktek diplomasi dengan Indonesia untuk mencapai kepentingan nasional negaranya. Tidak ada kekerasan yang digunakan dalam penanganan kerjasama ini melainkan diplomasi untuk bernegosiasi terhadap kepentingan satu sama lain.


Daftar Pustaka

Irsan, Abdul. 2007. Budaya & Perilaku Politik Jepang di Asia. Jakarta :Grafindo

Perwita, DR. A.A. Banyu Perwita dan DR Yanyan Mochamad Yani. 2005. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

The Japan Book. 2002. Tokyo : Kodansha Internasional.

Indonesia-Japan Forum Workshop. 2002. Consensus Building Towards a New Indonesia on The Base of Democracy, Social Justice and Multiculturalism. August, pp. 21-35.

Gatra. 2009. ‘Sejumlah Negara Asia Meninggalkan Resesi’. 24 Agustus,hal. 21
Kompas, 2009. ‘Monbugakusho, Ini Dia Studi Gratis ke Jepang’. 28 April, hlm. 7.
Repubilka. 2010. ‘Beasiswa dari Pemerintah Jepang bagi Lulusan SMA’. 11 Mei. Hlm 5
Tempo. 2010. ‘Indonesia Targetkan Investasi Jepang Naik’. 11 Januari, hlm . 12
The Jakarta Post. 2009. ‘RI Economy Heads Towards Full Recovery’. 14 October, p 10.


http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/12/hubungan-internasional-indonesia-jepang/
http://www.id.emb-japan.go.jp
http://enslikopedi.blogspot.com/2010/04/50-tahun-hubungan-indonesia-jepang.html
http://mcdens13.wordpress.com/2010/04/25/kerjasama-di-bidang-pendidikan-sains-dan-teknologi-sebagai-pilar-penyanggah-persahabatan-indonesia-%E2%80%93-jepang-di-abad-ke-21/
http://international.okezone.com/read/2009/12/17/18/285891/18/jepang-lebih-perhatikan-indonesia
http://www.indonesia.go.id/id/index.php/index.php

Pentingnya Instrumen Diplomasi Amerika dalam Penyelesaian Nuklir Rusia di Kuba

00.33 By diplomasi senin 1245

Kartika Indah Aldriana

208000194

Pendahuluan

Setelah perang dunia ke-2 lahirlah dua Negara superpower yang sangat mempengaruhi dunia percaturan politik secara global. Amerika dengan liberal kapitalisnya dan Uni Soviet dengan komunisnya menjadi perdebatan panas untuk berlomba-lomba agar bisa menguasai dunia secara menyeluruh. Perang yang dilakukan antar kedua belah pihak ini bukanlah perang secara terbuka dengan menggunakan ribuan pasukan yang diterjunkan ke medan tempur melainkan perang dengan menggunakan beberapa instrument politik luar negeri yang berdampak kepada Negara-negara yang baru saja merdeka pada saat itu. Propaganda, itelijen, diplomasi, dan ekonomi yang menjadi instrument penting saat itu dalam rangka berlomba-lomba memenangkan perang dingin tersebut. Istilah perang dingin itu tercipta karena peperangan ini terjadi tanpa adanya kontak senjata langsung dari pihak Amerika ataupun Uni Soviet. Akan tetapi dengan menggunakan Negara-negara yang bisa dikatakan beru saja merdeka untuk terjun langsung dengan cara melakukan propaganda dalam berbagai bentuknya.
Permasalahan ideology ini ternyata membawa dampak yang cukup besar bagi Negara-negara yang baru merdeka tersebut. Negara-negara yang baru saja merdeka ini sanggup berperang demi sebatas ideology yang dianut, yang dipilih, dan yang di agung-agungkan itu. Jelas kalau Negara-negara yang baru saja merdeka ini telah termakan oleh propaganda-propaganda dari kedua Negara adidaya yang tengah berperang itu. Hebatnya, Negara-negara yang baru saja merdeka ini berani untuk mengorbankan jiwa dan ragannya untuk kepentingan ideology dari Negara-negara adidaya tersebut.
Propaganda yang dilakukan oleh kedua Negara yang sedang berperang tersebut semakin berhasil terlebih dengan kemajuan teknologi yang dimiliki oelh kedua Negara tersebut. Jelas kalaulah teknologi bukan hal yang murah saat itu. Dan keunggulan teknologi dari masing-masing Negara tersebut sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan propaganda yang dihitung dari banyaknya jumlah pengikut terhadap salah satu ideology itu.
Perlombaan teknolgi itu juga yang membuat perubahan-perubahan dalam dunia perpolitikan secara global. Dari mulai perlombaan pembuatan nuklir, pesawat terhebat, senjata tercanggih, hingga satelit yang menurut saya pada waktu itu adalah sebuah benda yang sangat di elu-elukan oleh semua orang demi menancapkan pengaruhnya hingga ke atas langit. Dengan adanya satelit-satelit itu sangat mempermudah Negara-negara yang berperang itu untuk mendapatkan sejumlah informasi dengan cepat dan akurat. Namun dibalik kecanggihan dari satelit itu juga terdapat serangkaian peristiwa yang menyebabkan semakin panasnya perang dingin itu. Semakin mudah seseorang untuk mendapatkan informasi, maka semakin tangkaslah dia dalam mengatur strategi untuk memberikan pengaruhnya di dunia politik secara global. Dengan pesawat tercanggih kah, atau satelitkah, atau apapin itu yang membuat seseorang mampu mengakses kemana saja dan mendapatkan segenggam informasi maka orang tersebut akan menjadi pengaruh yang cukup besar bagi orang lain. Itulah analogi yang saya gambarkan untuk perang dingin ini. Ketakutan sebuah Negara atau individu dalam perlombaan informasi itulah yang semakin memicu bukan hanya dua Negara adidaya (Amerika dan Soviet) melainkan seluruh Negara dan individu yang ada di dunia. Maka, informasi mampu menjadikan sebuah Negara atau individu tersebut sangat berpengaruh dari yang lainnya.
Berbicara mengenai informasi itu juga kita tidak luput dari keakuratannya, dan seberapa cepatkah informasi itu bisa dimiliki. Dari situlah kualitas informasi dapat dinilai sangat penting bagi perkembangan zaman pada saat perang dingin. Dan teknologi adalah satu-satunya alat yang mampu mengendalikan seberapa berkualitasnya informasi tersebut dan seberapa mudahnya untuk mendapatkan informasi itu. Kombinasi dari kedua hal itu membuat semakin mendarahnya kebutuhan manusia akan informasi dan teknologi itu sendiri. Maka dua kombinasi itu adalah hal yang sangat mematikan bagi perang dingin.
Dalam tulisan saya, saya akan membicarakan mengenai peristiwa instalasi nuklir di cuba dengan mencoba menganalisisnya lebih mendalam mengenai apa yang terjadi pada saat Soviet melakukan instalasi nuklir di cuba dan kenapa Amerika begitu merespon tindakan tersebut serta bagaimana Amerika mampu menegosiasikan hal tersebut yang sangat berkaitan dengan kemanan nasional dan kedaulatan Negara cuba itu sendiri.

Cuba adalah salah satu Negara yang menganut ideology komunis yang diambil berdasarkan masyarakat Cuba yang terinspirasi dengan perjuangan kelas di Uni Soviet. Pada tahun 1959, Cuba melakukan revolusi yang dipimpin oleh Fidel Castro dengan menggulingkan diktetor Cuba bernama Fulgencio Batista dan Castro ingin mendirikan Negara komunis . 1
Hal ini jelas saja mendapat respon dari Amerika dengan liberal kapitalisnya yang sangat anti terhadap komunis. Dan jelas saja Amerika merasa sangat terpukul dengan munculnya sebuah Negara Komunis yang berada sangat dekat dengan Amerika. Di samping itu Amerika mempunyai pengaruh ekonomi yang sangat besar bagi Cuba. Dan banyak sekali perusahaan-perusahaan Amerika dalam upaya membangun pertumbuhan ekonomi Cuba untuk kemakmuran rakyat Cuba. Namun semenjak Fidel Castro menjadi pemimpin Negara dan menjadi Cuba sebagai Negara komunis maka banyak perusahaan-perusahaan Amerika tersebut yang di nasionalisasikan oleh Castro untuk kemudian menjadi milik Cuba sepenuhnya. Awalnya, Amerika melakukan embargo ekonomi terhadap Cuba pada tahun 1960, dalam upaya percobaan penggertakan terhadap kepemimpinan Castro di Cuba. Namun hal itu tidak diperdulikan oleh Castro karena Castro tidak mau memiliki ketergantungan dalam bidang apapun dengan Amerika. Dan sejak saat itulah Castro mulai mendekatkan diri terhadap pemerintahan komunis yaitu Uni Soviet.

Fidel Castro yang sedang berjabat tangan dengan Nikita Kruschev pada pertemuan United Nations General Assembly di New York pada tahun 1960 .

Pada tahun 1960, Soviet mulai merencanakan program penyuplaian rudal-rudal berisikan bermuatan nuklir ke Cuba dengan pertimbangan bahwa Cuba bisa dijadikan sebagai ancaman besar bagi Amerika. Dan Soviet mengira kalau Amerika tidak akan memberikan reaksi terhadap menyuplaian rudal nuklir tersebut. Dan pada 1962, penyuplaian rudal-rudal nuklir tersebut dimulai sekaligus instalasi pengaktifan rudal-rudal tersebut. Awalnya Amerika memang tidak memberikan reaksi apapun terhadap penyuplaian rudal-rudal tersebut. Amerika berasumsi kalau rudal-rudal tersebut adlaah sebagai bentuk bantuan persenjataan dalam rangka meningkatkan pertahanan militer di Cuba sebagai Negara yang baru saja melakukan revolusi dan rudal-rudal tersebut hanyalah rudal-rudal yang bersifat defensive bukan offensive. Akan tetapi isu-isu yang berkembang mulai berubah seiring dengan kekhawatiran Amerika itu sendiri mengenai penyuplaian rudal-rudal yang ditakutkan bermuatan nuklir tersebut dan rudal-rudal tersebut bersifat offensice. Jika memang benar demikian maka keamanan nasional Amerika akan sangat terancam dan jelas Amerika akan dengan sendirinya terkalahkan pengaruhnya oleh pemerintahan komunis. Kemudian pada tanggal 14 oktober 1962 pesawat terbang mata-mata milik Amerika mencoba mencari informasi tentang kebenaran keberadaan rudal-rudal yang bemuatan nuklir tersebut. Pada tanggal 16 oktober 1962, badan inteligen resmi Amerika melaporkan bahwa terdapat instalasi nuklir yang sedang dilakukan di Cuba. Foto-foto yang didapat oleh pesawat mata-mata Amerika menunjukkan bahwa terdapat dua jenis rudal yang bermuatan nuklir yang sedang dipersiapkan di Cuba. Medium-range ballistic missile (MRBM) yang mampu meluncur sejauh 2000 km, dan Intermediate-range ballistic missile yang mampu meluncur sejauh 4100 km dan keduanya mampu membawa hulu ledak bermuatan nuklir dengan daya ledak 3 mega ton .2


Mengetahui keberadaan rudal-rudal bermuatan nuklir ini membuat presiden Amerika J. F. Kennedy sangat bingung dalam mengambil keputusan mengenai apa yang seharusnya dilakukan. Karena sudah jelas, kalau hal ini sangat mengancam keamanan nasional Amerika. Jika saja rudal-rudal ini diluncurkan maka kota-kota seperti Los Angeles, Chicago, dan New York akan rata dengan tanah dan Amerika pun tiada. Dengan demikian pembuktian mengenai rudal-rudal tersebut telah berujung kepada pengambilan keputusan J. F. Kennedy yang sangat genting ini mengingat terjadinya perang dunia berikutnya yang akan lebih diperhebat dengan senjata nuklir.

Dan Kennedy pun, menghadapi masa-masa sulit dengan dihadapi berbagai pilihan yang tidak pasti mengenai apa yang harus dilakukan untuk melawan Cuba dan Soviet. Jika harus menunggu hingga nuklir tersebut siap, maka akan berkemungkinan terjadinya perang nuklir secara global. Akan tetapi jika Amerika ingin bertindak cepat untuk menyingkirkan rudal-rudal tersebut dari Cuba, maka Amerika akan berurusan langsung dengan Soviet. Terlebih disana bukan hanya rudal melainkan terdapat ribuan pasukan Soviet yang membantu Cuba dalam upaya instalasi nuklir tersebut. Jika Amerika menyingkirkan rudal-rudal tersebut secara paksa (dengan jalan perang dengan Cuba) maka keberadaan pasukan Soviet di Cuba akan terancam, dan jika sampai pasukan Soviet mati dikarenakan penyerangan Amerika terhadap Cuba, maka Soviet mempunyai alasan yang sangat jelas kepada dunia Internasional untuk menyerang kembali Amerika dengan alasan solidaritas kematian pasukan Soviet tersebut. Dan hal itu sama saja memicu terjadinya perang dunia ke-3 yang memungkinkan juga untuk terjadinya perang nuklir secara dlobal. Dan hal ini sangat teramat krusial mengingat waktu instalasi yang cukup pendek dengan pengambilan keputusan yang harus dilakukan secepatnya oleh J. F. Kennedy. Sedikit kesalahan saja, akan membawa dampak yang sangat besar bagi dunia internasional. Karena itu presiden J. F. Kennedy harus mempertimbangkan keputusannya dengan benar-benar matang.
Jadi langkah konkret apa yang harus dilakukan oleh Kennedy dalam mengambil keputusan mengenai instalasi nuklir di Cuba ?

Intelligen Sebagai Instrumen Politik Luar Negeri
Keberadaan intelligen tidak daapt diragukan lagi mengingat pentingnya sumber informasi yang tepat dan akurat serta cepat. Karena hal itulah yang menjadikan keberhasilan sebuah Negara dalam upaya melancarkan diplomasinya terhadap Negara-negara yang menginginkan sebuah hubungan diplomatic. Informasi tersebut haruslah didapat sesegera mungkin dan seakurat mungkin untuk membuktikan pengaruh dari sebuah Negara dan lebih melebarkan pengaruhnya lagi dikemudian hari. Tanpa adanya intelligen ini, maka arus informasi yang didapat bisa saja terhambat dan mungkin akan sangat memperburuk situasi seperti peristiwa besar ini. Peranan intelligen dalam membantu upaya Amerika untuk menjauhkan ancaman keamanan nasional sangatlah besar. Intelligen berfungsi sebagai penyalur informasi tercepat dan terakurat terhadap pemerintahan Amerika. Dalam kasus seperti Cuban Missile Crisis ini peranan Intelligen sangat di nomor satukan dan Intelligen ini juga membantu mempermudah upaya diplomasi terhadap dunia internasional dengan berbagai informasi yang didapatnya. Dari awal hingga akhir penyelesaian konflik ini, Intelligen memainkan peranan yang sangat penting. Dengan teknologi canggih yang dimiliki dan kecepatan dalam mengambil informasi sangat membantu dalam menyelesaikan konflik ini.
Diawal terjadinya konflik ini, Amerika memberikan reaksinya terhadap instalasi nuklir yang dilakukan Soviet di Cuba. Jika kita melihat di awal konflik tadi, maka informasi yang di terima oleh presiden Amerika itu berasal dari Intelligen yang mengambil sejumlah informasi penting berupa foto-foto langsung terhadap rudal-rudal tersebut. Dan pihak intelligen juga memberikan penjelasannya terhadap rudal-rudal tersebut. Jika saja pihak intelligen ini tidak ada, maka sumber informasi pun akan berjalan lambat atau mungkin Amerika tidak akan mengetahui leberadaan rudal-rudal dan kepastian akan instalasi nuklir tersebut.
Dengan adanya intelligen ini juga yang nantinya akan membantu dalam penyelesaian konflik ini di meja perundingan dengan pihak internasional yang akan memutuskan apakah Amerika bisa menyingkirkan instalasi nuklir tersebut atau kah Soviet yang berhasil menyelesaikan instalasi tersebut. Jadi, Intelligen ini sangat berfungsi sebagai penentu keberhasilan diplomasi yang dilakukan oleh Amerika terhadap pihak internasional.

Diplomasi Sebagai Ujung Tombak dalam Penyelesaian Konflik
Semenjak Amerika mengetahui keberadaan rudal-rudal bermuatan nuklir yang sedang dipersiapkan Soviet di Cuba, Amerika merasa sangat terancam keamanan nasionalnya karena secara geografis Cuba merupakan Negara yang sangat berdekatan dengan Amerika dan rudal-rudal yang sedang dipersiapkan itu mampu menghancurkan semua Negara bagian terdekat Amerika dengan Cuba apabila sudah di aktifkan. Dan untuk itu hal yang pertama kali dilakukan oleh presiden Amerika adalah menggunakan instrument diplomasi dalam upaya meredam konflik tersebut.
Awalnya Amerika langsung meminta menteri luar negeri Uni Soviet untuk dating ke Amerika dan menjelaskan mengenai kebenaran rudal-rudal tersebut, untuk apa rudal tersebut, dan apa sifat dari rudal-rudal tersebut. Lalu negosiasipun berlangung sangat sebentar dikarenakan menteri luar negeri Uni Soviet menjelaskannya dengan sangat simple dan jelas kalau menteri luar negeri Uni Soviet berbohong pada presiden Amerika. Menteri luar negeri Uni Soviet menegaskan kepada presiden J. F. Kennedy kalau rudal-rudal tersebut adalah hadiah dari Soviet terhadap Cuba yang baru saja melakukan revolusi. Untuk membantu Cuba dalam membangun pertahanan nasionalnya maka Soviet memberikan bantuan tersebut dan menteri luar negeri Soviet juga menjelaskan kalau rudal-rudal tersebut bersifat defensive. Mendengar hal ini presiden J. F. Kennedy tidak begitu saja percaya. Karena dia yakin, apa yang dilihat dan dijelaskan melalui foto-foto yang berasal dari Intelligen tersebut adalah benar, bahwa rudal tersebut sengaja di taruh di cuba untuk mengancam keamanan nasional Amerika dan Rudal tersebut bersifat offensive. Untuk itu diplomasi yang dilakukan oleh presiden Amerika dan menteri luar negeri bisa dibilang gagal. Karena negosiasi yang dilakukan kedua belah pihak belum menghasilkan sebuah solusi pasti. Terlebih salah satu pihak menutup-nutupi kebenarannya. Hal ini sangat membuat presiden Amerika sangat kesal namun J. F. Kennedy tetap harus bersabar dan berfikir secara jernih agar tetap bisa melakukan diplomacy tanpa harus adanya peperangan.
Kemudian setelah kegagalan dari negosiasi yang dilakukan oleh presiden Amerika dan menteri luar negeri Uni Soviet, maka J. F. Kennedy berfikir kalau negosiasi yang dilakukan dan di usahakan secara terus menerus tidaklah membuat instalasi tersebut berhenti dan terlihat seperti membuang-buang waktu saja. Disamping keinginan J. F. Kennedy untuk terus bernegosiasi dengan pihak Uni Soviet, sebagian pejabat-pejabat pemerintahan menginginkan tindak lanjut yang menghasilkan langkah konkret. Dan satu-satunya langkah konkret yang mereka pikirkan saat itu hanyalah perang. Pengeboman langsung lewat udara terhadap instalasi nuklir tersebut atau invasi Cuba untuk menggagalkan instalasi nuklir tersebut sekaligus menggulingkan pemerintahan komunis Fidel Castro. Hal ini menjadikan presiden Amerika semakin sulit untuk menentukan pilihan. Jika harus melakukan pengeboman lewat udara ada konsekuensi yang harus dihadapi oleh Amerika. Yang pertama, belum tentu dengan pengeboman lewat udara, mampu menghancurkan semua rudal-rudal tersebut. Jika rudal-rudal tersebut tidak hancur secara menyeluruh maka rudal-rudal tersebut bisa diluncurkan kapan saja. Kedua, jika melakukan pengeboman lewat udara, bisa saja bom tersebut menewaskan beberapa pasukan Uni Soviet yang berada di Cuba. Dan hal itu sama saja mengizinkan Soviet untuk menyerang Amerika dengan alasan solidaritas kematian pasukan Soviet yang di bom oleh Amerika. Pengambilan keputusan secara cepat dan penting ini sangatlah susah untuk ditentukan begitu saja tanpa adanya perundingan-perundingan terlebih dahulu. Dan hal itu belum tentu juga menghasilkan sebuah solusi yang pasti untuk mengakhiri konflik ini.
Dengan beberapa perundingan yang dilakukan oleh pemerintahan Amerika, maka tercetuslah ide blockade perairan internasional Cuba untuk menghentikan penyuplaian rudal-rudal tersebut dari Soviet. Hal ini sangat disetujui oleh presiden karena dinilai mampu untuk menghambat instalasi nuklir dan memberikan sedikit banyak waktu lagi untuk melakukan negosiasi terhadap pihak Uni Soviet.

Blockade, Sebagai Bentuk Komunikasi Politik Antara Amerika dengan Soviet
Upaya untuk memblockade perairan internasional Cuba ini sangat disetujui oleh presiden karena presiden melihat adanya peluang untuk lebih memberikan waktu walaupun sedikit untuk bisa menegosiasikan lebih lanjut mengenai instalasi nuklir tersebut. Dan diplomasi yang dilakukan oleh Amerika tidak hanya dilakukan semata-mata dengan pihak Soviet malainkan terhadap dunia internasional yang turut mengupayakan perdamaian terjadi. Namun hal ini membutuhkan waktu untuk mempersiapkan sebuah konferensi dan membutuhkan informasi yang jelas agar dunia dapat menekan Soviet untuk memulangkan rudal-rudal tersebut dari Cuba. Dan ternyata ide blockade perairan internasional Cuba ini cukup memberikan waktu untuk mempersiapkan konferensi, dan menegosiasikan kepada dunia internasional untuk menekan Soviet memulangkan rudal-rudalnya dari Cuba.
Ide Blockade ini bukan hanya sembarang ide yang tercetus dari mulut dan semata-mata merupakan penghambatan penyuplaian rudal-rudal dari Soviet ke Cuba. Namun, blockade ini juga merupakan salah satu bentuk dari komunikasi politik yang dilakukan presiden J. F. Kennedy terhadap pihak Soviet. Dari blockade tersebut dapat dilihat bagaimana keinginan negosiasi Soviet sangat dipaksakan. J. F. Kennedy berupaya keras melalui blockade yang dilakukan untuk membawa Soviet kedalam negosiasi secara tatap muka. Bentuk pemaksaan ini bukan semata-mata Amerika ingin memperlakukan Soviet secara kasar melainkan hanya untuk memaksa Soviet untuk terjun kedalam arena Diplomasi. Karena Amerika yakin dengan Diplomasi semuanya akan berlangsung aman tanpa harus terjadinya perang. Dan Amerika yakin, jika Soviet berhasil dibawa kedalam sebuah negosiasi maka Amerika akan memenangkan pertarungan tersebut. Sehingga tidak ada yang perlu ditakutkan lagi mengenai perang nuklir yang akan terjadi. Akan tetapi, komunikasi politik seperti ini sangatlah mudah untuk melenceng menjadi sebuah kesalahpahaman penafsiran. Sedikit saja kesalahan yang dilakukan oleh para angkatan lau yang sedang memblockade tersebut maka mungkin saja terjadi perang. Karena hal seperti ini sangat sulit untuk ditafsirkan terlebih bahasa yang digunakan bukanlah bahasa secara verbal atau komunikasi secara langsung anta J. F. Kennedy kepada Nikita Kruschev malainkan bahasa secara nonverbal yang hanya mampu bagi orang yang mengerti saja. Orang yang mengerti saja belum tentu mampu menafsirkan sesuai dengan tafsiran Amerika, bisa saja berbeda. Maka hal ini sangatlah krusial dan angkatan lau Amerika sangatlah berhati-hati dalam upaya blockade tersebut.

Win Win Solution
Upaya komunikasi yang berjalan sedikit a lot tersebut ternyata sedikit membuahkan hasil. Dengan memperlambat kinerja instalasi nuklir tersebut ternya mampu menyeret Soivet kedalam meja perundingan dengan pihak internasional. Perundingan tersebut juga kurang mempengaruhi Soviet untuk menarik mundur rudal-rudal tersebut dari Cuba.
Selama perundingan dengan pihak internasional, Amerika berhasil mempengaruhi dan meyakinkan kepada pihak internasional bahwa Soviet telah melakukan instalasi nuklir di Cuba secara diam-diam dan hal itu sangat mengancam keamanan nasional Amerika. Terlebih dengan rudal-rudal yang di persiapkan itu bersifat offensive. Dengan bukti foto-foto beserta penjelasannya yang berikan intelligen Amerika membuat Amerika mampu memenangkan negosiasi dengan pihak internasional untuk menekan Soviet agar menarik mundur rudal-rudal tersebut dari Cuba. Namun hal tersebut tetap saja belum mengubah pemikiran pemerintahan komunis tersebut. Karena menurutnya, tidak ada penawaran yang setimpal apabila rudal-rudal tersebut harus dipulangkan dan Soviet pun tidak mau menerima kekalahan dengan tangan kosong. Setiap negosiasi haruslah mempunyai keuntungan yang seimbang antara kedua belah pihak. Untuk itu sangat sulit sekali untuk mempertimbangan tawaran seperti apa yang bisa membuat pihak Soviet bisa mencabut rudal-rudal itu dari Cuba.
Akhirnya solusi terakhir, Amerika menawarkan pertukaran yang menurut Soviet pertukaran tersebut adalah sebuah tawaran yang setimpal jika memang rudal-rudal yang ada di Cuba harus di pulangkan kembali ke Soviet.
Amerika menawarkan pertukaran antara pangkalan nuklir Amerika di Turki dengan pencabutan rudal-rudal bermuatan nuklir Soviet di Cuba. Hal ini sangat menarik mengingat waktu yang dimiliki tinggal sedikit sekali namun akhirnya solusi antar pihak-pihak yang merasa terancam tersebut menemukan sebuah pertukaran yang dianggapnya cukup adil.

Penutup
Akhirnya peristiwa yang hampir saja menimbulkan perang dunia ke-3 ini mampu dihentikan dengan hasil akhir yang sama-sama menguntungkan menurut kedua pihak tersebut. Jika saja presiden J. F. Kennedy salah dalam mengambil keputusan, maka dunia ini akan berada pada ambang kehancuran.
Peristiwa instalasi nuklir Soviet di Cuba ini adalah sebuah peristiwa yang dianggap sebagai peristiwa yang benar-benar hampir membuat dunia ini berada para perang nuklir secara global. Bagaimana tidak, keputusan yang harus dipilih oleh presiden Amerika sangatlah mendekati jurang kehancuran peperangan nuklir dunia. Tidak ada waktu untuk mendiskusikan terlalu lama. Karena pihak Soviet pun tidak menginginkan adanya sebuah negosiasi kepada pihak Amerika. Dengan jebakan-jebakan yang dilakukan oleh Soviet kepada Amerika menandakan kalau Soviet bisa saja memang sengaja untuk memicu peperangan dengan Amerika.


Kesimpulan
Berdasarkan tulisan diatas, saya mengira bahwa Diplomasi sangatlah penting bagi setiap Negara dalam menegosiasikan kepentingannya terhadap Negara lain. Dan instrument diplomasi ini menjadi sangat penting dan sering digunakan bagi semua Negara-negara di dunia setelah perang dunia ke-2. Tidak ada Negara yang menginginkan adanya perang dimanapun. Untuk itu peranan diplomasi sangat menentukan terjadinya peperangan atau tidak.
Disamping hal itu, saya melihat bahwa memang adanya sebuah kegigihan untuk mempertahankan perdamaian melalui soft power yang dilakukan oleh Presiden Amerika. Sbenarnya bisa saja jika presiden JFK menginginkan terjadinya peperangan. Namun sebagai pemimpin Negara, JFK juga harus mempertimbangkan dampak apa saja yang akan terjadi jika memang harus dilakukan peperangan. Dan tidak mungkin juga ketika itu JFK mendeklarasikan perang dengan Soviet. Karena, saya melihat kalau Amerika ini sebenarnya memang sedikit takut dengan Soviet yang mempunyai senjata-senjata canggih dan oleh karena itulah Amerika lebih memilih jalan diplomasi ketimbang perang dengan Soviet.

1 Micrisoft Encarta Premium. Article : Cuban Missile Crisis.
2 ibid